Berita dan CeritaCatatan

Seminggu Pascabencana

Seminggu sudah Palu, Donggala, dan Sigi diguncang gempa dan tsunami. Laporan terakhir dari Posko Induk Korem Tadulako, 1558 warga dinyatakan meninggal dunia. Saya tak akan menyebut berapa angka untuk warga yang masih dinyatakan hilang, yang masih tertimbun, warga yang mengalami luka, warga yang tak lagi memiliki rumah, dan warga yang berbondong-bondong hijrah ke luar dari Kota Palu dan sekitarnya. Hal yang menyesakkan, meskipun ini tak ingin saya yakini, korban sepertinya masih akan terus bertambah. Kota Palu sendiri sudah kehilangan satu kelurahan, Petobo, yang padat penghuninya, dan sampai saat ini belum pasti berapa warga yang menjadi korban di sana.

Di tengah upaya pengevakuasian korban, semrawutnya koordinasi pemerintah (baca: negara) dalam penanganan bencana dan tanggap darurat, carut-marutnya distribusi bantuan logistik, serta kesimpangsiuran informasi, berbagai upaya yang menyiratkan harapan dan optimisme bahwa #palukuat, kian tumbuh dan bertunas. Saya sendiri lebih memilih untuk terus melakukan apa yang bisa saya lakukan, daripada meributkan dan turut merayakan kegeraman pernyataan “kontraproduktif” dari Gubernur Sulteng (silahkan cek “Gubernur Sulteng Marah Kalau Warganya Eksodus”) dan Walikota Palu di hari kemarin, misalnya. Saya cukup menyebut, mereka adalah tipikal orang yang tak cakap untuk memimpin!

Relawan, bantuan logistik, dan kepedulian dari berbagai wilayah di Indonesia (dan juga dari berbagai belahan dunia), kian terus bertambah seiring dengan membaiknya jalur transportasi dan komunikasi. Relawan-relawan muda dari Kota Palu dan sekitarnya pun perlahan mulai terkonsolidasi. Mereka mulai merapatkan barisan ke sejumlah posko relawan yang sebelumnya sudah terbentuk; atau berinisiatif membangun posko sendiri untuk sekurang-kurangnya memperpendek jalur distribusi bantuan dan pelayanan.

Saya sendiri, yang baru bisa sampai di Palu pada 2 Oktober, bergabung dengan Posko Relawan Informasi, posko yang dibentuk oleh @NemuBuku komunitas anak-anak muda Kota Palu yang bergerak di bidang literasi yang dikelola oleh Neni Muhidin (Parveen Mohamad) dan Skp-ham Sulteng, organisasi korban pelanggaran HAM yang dimotori oleh Nurlaela Lamasitudju. Mulai dari hari pertama pascagempa mereka telah bergerak melakukan semampu yang mereka bisa.

Ketika saya datang, tidak lebih dari 7 orang saja yang ada di sana. Kini, sejumlah komunitas dan individu sudah mulai bergabung di posko ini: Rumah Hutan DrupadiSejenak Hening, dan Komunitas Rubalang, di antaranya. Hampir semua adalah anak-anak muda Kota Palu dan sekitarnya.

Sedianya, posko ini hanya berusaha untuk mencari dan mendistribusikan informasi yang dipandang bermaanfaat, khususnya untuk warga yang menjadi korban bencana. Di saat yang sama, posko ini sekaligus bisa berusaha untuk terus saling menguatkan dan membangkitkan optimisme warga. Sekecil apapun itu, kabar yang ingin disiarkan adalah kekuatan, semangat, dan optimisme: bahwa #palukuat, #palubangkit, dan warga di seluruh penjuru negeri, yang memahami arti kemanusiaan, senantiasa akan ada bersama kita, #pelukpalu dari jauh, semampu yang mereka bisa.

Seiring dengan dinamika yang terjadi, terlebih saat di lapangan kami melihat ada berbagai kecarutmarutan dalam koordinasi dan terutama distribusi bantuan logistik dari pemerintah kepada para pengungsi, tidak bisa tidak akhirnya kami pun berupaya mendistribusikan logistik, meskipun dalam jumlah yang relatif kecil.

Hari ini, posko kami pun akan mulai membuka dapur umum. Dari Tentena, Lian Gogali telah mengirimkan sebagian dan sedang terus mengupayakan berbagai kebutuhan yang diperlukan untuk dapur umum tersebut.

Terima kasih atas segala dukungan, bantuan, dan doa dari segenap kerabat di berbagai penjuru negeri. Jabat erat dari kami di sini, #pelukpalu meski dari jauh, agar #palukuat tak terjatuh.

Semoga esok senantiasa akan lebih baik.***

Tags
Lihat Lainnya

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

avatar
  Berlangganan  
Notify of
Close