BeritaBerita dan CeritaCatatanLogistik & Dapur Umum

Cerita di Balik Dapur Umum (1)

Sabtu, 6 Oktober 2018, saya tiba di sekretariat SKP-HAM Sulteng Jl. Basuki Rahmat untuk kembali bergabung sebagai relawan setelah sempat pulang kampung beberapa hari. Saya disambut Kak Nurlaela Lamasitudju, orang yang pertama kali mengajak saya untuk bergabung menjadi relawan data dan informasi.

Ketika saya datang, posko data dan informasi ternyata telah melebarkan kerjanya: sudah mulai membuka dapur umum. Banyak teman-teman baru yang saya temui di sana. Selain mereka berasal dari Palu, beberapa relawan di antaranya datang dari luar kota, dari Gorontalo, Luwuk, Napu, dan beberapa daerah lainnya.

Sesaat setelah sampai, saya langsung mengikuti rapat. Rapat ini untuk melakukan pembagian tugas dari setiap relawan. Saya mendapat bagian pencatatan untuk data relawan, juga jumlah logistik yang masuk ataupun keluar. Semua relawan di sana terlihat sangat antusias, mereka dengan senang hati mengerjakan apa yang sudah menjadi tanggung jawab masing-masing.

Pekerjaan di dapur umum mungkin sama saja seperti bekerja di rumah makan. Bedanya kami bekerja secara sukarela untuk menolong orang, bukan untuk mendapat bayaran. Kami bekerja mulai jam 6 pagi, memasak nasi, sayur dan juga lauk pauknya. Memotong sayuran kami lakukan pada malam hari untuk mempercepat gerakan. Sekitar pukul 13.00, kami selesai memasak, kami lanjutkan dengan membungkus nasi sesuai jumlah relawan dan pengungsi yang biasa datang ke dapur umum ini.

Pada umumnya relawan yang datang ke posko dapur umum ini adalah laki-laki. Sebagain besar dari mereka, sebelumnya tidak ada yang memiliki pengalaman memasak. Namun, setelah beberapa hari terus ditempa oleh Sisilia Laborahima, kepala dapur umum, para relawan pada akhirnya mulai terbiasa memasak, bahkan beberapa di antaranya sudah mulai terlihat mahir menanak nasi dalam jumlah banyak. Saya bangga karena berada di antara para relawan tangguh, yang meskipun datang dari jauh tapi tidak merasa canggung, ataupun risih dengan pekerjaan dapur yang biasa dikerjakan perempuan.

Banyak cerita yang terjadi di posko ini, selalu ada tawa yang menggema di sela-sela pekerjaan yang mungkin kadang melelahkan. Mawan, Isran, Lutfi, dan Ishak, yang datang dari Gorontalo, pada awalnya mereka berpikir, saat tiba di kota Palu, mereka akan melakukan evakuasi terhadap para korban yang belum ditemukan. Akan tetapi kenyataan yang mereka dapatkan jauh berbeda.

Pey, relawan yang datang dari Luwuk juga mempunyai cerita yang berbeda. Ia datang karena diajak oleh salah satu temannya, dan akhirnya ikut bergabung di posko dapur umum ini. Perempuan ini mempunyai karakter seperti laki-laki, baju dan penampilannya sama sekali tidak menggambarkan jika dia adalah perempuan, tapi ia tetap terlihat manis dan menyenangkan.

Para relawan yang datang selalu memberi warna berbeda yang kadang mengundang tawa. Apapun itu, kami telah membentuk satu ikatan di dapur umum ini, ikatan yang kami sebut sebagai keluarga. Oleh karena itu, selalu saja ada kesedihan setiap kali ada relawan yang harus kembali ke kampungnya masing-masing.

Ikatan yang kami bangun selama menjadi relawan di posko dapur umum ini pun tidak akan pernah terputus. Kami masih berhubungan dengan baik via telfon sampai sekarang. Harapan saya, suatu hari nanti kami bisa berkumpul kembali untuk bercerita tentang hal-hal konyol yang biasa kami lakukan selama menjadi relawan.***

Lihat Lainnya

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

avatar
  Berlangganan  
Notify of
Close