BeritaBerita dan CeritaKarawana

Kopra di Batas Desa

Indosimpa, mengolah kelapa menjadi kopra dari sejak pertama menikah, sampai sekarang, ia menekuni pekerjaan itu berdua dengan suaminya.

Guncangan gempa 28 September lalu telah membuat rumah Indosimpa tidak bisa lagi dihuni, lantas, hal itu tidak membuatnya meninggalkan pekerjaan yang puluhan tahun telah ditekuninya itu. Kini, ia membuat rumah darurat (yang ia sebut pondok-pondok) di Desa sebelah, Desa Potoya, dan mengeringkan kelapa untuk menjadikannya kopra juga di Desa sebelah.

Karena memang rumah Indosimpa berdiri di Desa Karawana, tepat di samping rumah itu, sudah perbatasan Desa Potoya.Tepat di sebelah rumahnya, di tanah kosong milik orang yang sudah masuk wilayah Desa Potoya, Indosimpa dan suaminya mendirikan hunian sementara dari sisa-sisa material rumahnya yang rusak parah oleh guncangan gempa.

“rumah saya sudah tidak bisa lagi saya tempati, saya takut, karena temboknya banyak yang retak, apalagi dapur saya, rata dengan tanah” ungkap Indosimpa saat ditemui di rumah darurat yang ia bangun dari puing-puing.

Rumah yang telah roboh tersebut baru tiga tahun lalu ia dirikan, hasil dari pekerjaan suaminya selama 20 tahun menjadi mandor di sebuah gudang perusahaan sawit milik PT.Pelindo Mas di Kalimantan. Begitulah ibu Indosimpa bercerita, lima tahun lalu ia membeli sebidang tanah seharga 5 Juta Rupiah yang di atasnya untuk ia membangun rumah tersebut.

Retakan terdapat hampir di semua badan rumah yang menjadikannya tidak lagi layak huni. Rusak paling parah adalah bagian dapur, roboh, rata dengan tanah.

“saya dan bapak tidak kemana-mana saat gempa lalu, kami melihat rumah kari roboh, kami menyelamatkan diri di tanah kosong ini, besoknya bapak membuat pondok-pondok ini. kira-kira seminggu setelah gempa itu, saya dan bapak mulai membuat kopra lagi” tutur Indosimpa yang duduk di kursi depan rumah daruratnya.

Dirasa sudah cukup dengan tempat tinggal sementara yang ada, Indosimpa tidak begitu berharap mendapatkan Hunian Sementara (Huntara). Ia pun tak bersedia tinggal di Huntara, karena letaknya yang jauh, menurutnya akan menjadi kendala baginya menjalankan usaha membuat kopra.

Di sebrang jalan tepat berhadapan dengan rumah darurat, di petakan lahan sawah yang oleh pemiliknya tak lagi digarap, karena tidak ada air dari saluran irigasi, Indosimpa mengeringkan kelapa-kelapa itu menjadi kopra sepanjang hari. Ketika cuaca normal, cukup 3 hari waktu yang dibutuhkan untuk menjadikan kopra tersebut kering. Namun, ketika cuaca tak bersahabat, dibutuhkan waktu palingtidak seminggu Indosimpa menunggu.

Setiap ada kopra kering, Indosimpa langsung menjualnya di Palu, tepatnya di Jalan Touwa di sebuah Toko pembeli hasil bumi yang tak lagi asing. Indosimpa tidak membawa kopra sendiri, Ia masih harus menyewa mobil untuk mengangkut dari Desa Karawana ke Palu, yang setiap karung, Indosimpa harus mengeluarkan ongkos lima belas ribu Rupiah kepada pemilik mobil langganannya dari Desa Potoya untuk mengangkut kopranya berkarung-karung. Karungnya besar, sangat besar, karung itu biasa digunakan untuk tempat konga padi, sehingga sering disebut “karung konga”.

Sebelum kelapa-kelapa dikeringkan, Indosimpa harus memisahkan sabut kelapanya terlebih dahulu. untuk tahap ini Indosimpa mempekerjakan orang. Adalah Maswani, seorang bapak-bapak paruh baya dari Desa Soulowe, menjadi langganan Indosimpa membuat kelapa-kelapa itu terpisah dari sabutnya. Setiap seratus biji kelapa, Indosimpa mengeluarkan biaya sepuluh ribu Rupiah, dan dalam sehari hampir seribu biji kelapa dipisahkan dari sabutnya.

“Saya tidak mampu mengupas kelapa, karena banyak yang harus dikerjakan, jadi saya meminta tolong Pak Maswani untuk mengupas kelapa” jelasnya melanjutkan cerita di bawah langit Sigi yang terik menimpa atap seng rumah darurat.

Setiap waktu istirahat tengah hari tiba, Indosimpa menyiapkan makanan kepada Masnawi, karena selain upah, Indosimpa juga menanggung makan siang untuk orang yang bekerja mengupas kelapa.

“orang harus makan saat kerja, saya tidak mau orang kerja menahan lapar” ujar Indosimpa sambil memandang serius kearah Kami, sembari sesekali melihat orang yang sedang memisahkan sabut dari kelapanya di sebrang jalan sana.

Seblumnya, saat kami baru tiba di tempat Indosimpa membuat kopra, ada mobil bak terbuka (open cup) terparkir di dekat tumpukan sabut kelapa, nampak dua orang giat memindahkan sabut kelapa dari tumpukannya ke dalam bak mobil. Baru setelah rampung, kedua orang tersebut menjelaskan bahwa sabut kelapa ini dimanfaatkan untuk membakar bata merah. Tak banyak keterangan dari kedua orang itu, sebelum akhirnya berlalu.

Memang Indosimpa menjual sabut-sabut kelapa tersebut, dalam satu mobil bak terbuka, Indosimpa mendapatkan dua puluh ribu Rupiah. Pun tempurung kelapa, juga dijual, yang setiap karungnya dihargai tiga puluh ribu Rupiah. Sehingga Indosimpa juga mendapatkan pemasukan dari sabut kelapa dan tempurung kelapa, yang dari itu digunakan Indosimpa untuk menggaji yang orang memisahkan kelapa dari sabutnya.

Setelah kelapa terpisah dari sabutnya, kelapa tersebut dibelah menjadi dua bagian, dan setelah airnya ditiriskan, kelapa tersebut di letakkan menengadah ke atas di bawah sinar matahari selama sehari. Proses ini untuk mempermudah memisahkan daging kelapa dari tempurungnya. Setelah terpisah kelapa-kelapa dipotong-potong menjadi ukuran yang lebih kecil yang tujuannya agar cepat kering dan menjadi lebih efisien saat dimasukkan dalam karung sebelum dijual.

Buah kelapa didapatkan Indosimpa dari kebun yang ia sewa, yang dipanen setiap empat bulan sekali. Indosimpa mempekerjakan tukang panjat, ada dua orang tukang panjat langganannya untuk menurunkan kelapa dari pohonnya di tiga tempat kebun kelapa yang ia sewa. Setiap pohonnya, Indosimpa membeyar lima ribu Rupiah kepada tukang panjat. Suami Indosimpa membawa makanan ke kebun yang ia sewa setiap ada tukang panjat memetik kelapa.

Untuk mengangkut kelapa dari kebun ke tempat pembuatan kopra, Indosimpa membayar sewa mobil seharha lima puluh ribu Rupiah sekali angkut, sedangkan untuk gerobak, Indosimpa membayar seratus Rupiah per bijinya. Sehari bisa sampai 5 angkut.

Ada juga pisang yang di petik dari kebun yang ia sewa, selain dikonsumsi sendiri, kadang pisang tersebut ia bagikan ke tetangga dan kadang juga ia jual.

Selain kelapa dari kebun yang disewa, Indosimpa juga membeli kelapa dari orang-orang yang datang membawa kelapa kepadanya. Kemudian ia juga membeli coklat dari masyarakat sekitar. untuk coklat basah yang telah dikeluarkan dari kulit dan tongkolnya, Indosimpa membeli dengan harga lima ribu Rupiah per kilo, sedangkan coklat yang kering dibeli dengan harga dua puluh ribu Rupiah per kilo.

Indosimpa memanfaatkan segala peluang usaha yang masih bisa dijalankannya selama tidak mengganggu usaha utamanya, kopra. Apalagi pasca bancana gempa yang menimpa Sulteng, harga kopra turun sangat derastis. Tentuya hal ini memuat Indosimpa mengalami kesulitan untuk membangun usahanya itu pasca gempa.

“Saya masih punya harapan membangun usaha ini dengan bapak (suaminya), saya tidak punya anak, jadi saya akan tetap melanjutkan usaha ini berdua dengan bapak” tutur Indosimpa dengan tegar kepada kami.

Satu-satunya hal yang membuat Indosimpa seolah memiliki kekuatan untuk melanjutkan usahanya berdua bersama suaminya, adalah harapan. Setelah Harapan untuk memiliki seorang anak telah pupus.

Harapan lain juga kiranya agar pemerintah dapat menstabilkan harga kopra. Karena semacam ada keanehan pasca bencana, harga kopra anjlok di saat harga minyak goreng naik. Harapan agar pemerintah berpihak kepada rakyat kecil menjadi angan paling asasi Indosimpa. Memang hanya harapan yang membuat Indosimpa dan suaminya tiap hari giat mengeringkan kelapa-kelapa menjadi kopra di perbatasan Desa, Karawana-Potoya.

0 0 votes
Article Rating
Lihat Lainnya

Artikel terkait

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Back to top button
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x