Berita dan CeritaCatatanPedagogical & Psychological First AidPotoyaProgram

Pedagogical & Psychological First Aid di Desa Potoya

Catatan Pengalaman

Sabtu, 17 November 2018, pukul 08.30 WITA.

Kami, 20 orang yang tergabung sebagai Tim Psychological First Aid (PFA) – Kelompok Kerja Pasigala Tangguh yang didukung oleh Caritas Jerman, tiba di Desa Potoya, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi. Ini adalah kali pertama kami datang ke komunitas warga terdampak bencana Pasigala yang terjadi 28 September 2018 yang lalu. Insya allah, kami datang ke sana tak hanya berbekal niat. Kami ingin berbagi ilmu dan sekaligus mempraktikkan sesi-sesi pelatihan dan stabilisasi emosi sebagai penyintas yang sudah kami ikuti sebelumnya. Para ahli menyebut pelatihan yang telah kami terima dan yang kini akan kami praktikkan itu sebagai pedagogical dan psychological first aid.

Rencananya, kami akan bermain dengan adik-adik di Desa Soulowe dan Desa Potoya, dua desa yang saling bertetangga yang ada di Kecamatan Dolo. Kami memang sudah membagi diri menjadi dua tim, masing-masing 10 orang. Saya sendiri berada di Tim Desa Potoya.

Di Desa Potoya, saya dan sembilan teman lain akan bermain dengan adik-adik yang bersekolah di SDN 4 Potoya. Gedung sekolahnya sendiri tampak masih berdiri cukup kuat pascabencana; meskipun pada guru dan adik-adik yang bersekolah di sana selama ini masih belum berani menggunakan dan berlama-lama di ruang kelas. Pada sabtu ketika kami datang itulah untuk pertama kalinya mereka mulai berani menggunakan gedung sekolah itu lagi.

Kami disambut hangat oleh tiga ibu guru dan adik-adik siswa yang sudah berkumpul di sana. Sesekali, saya melihat adik-adik itu curi-curi pandang ke arah kami; yang kemudian saya balas mereka dengan senyuman. Mereka berjumlah sekitar 70 orang. Wajah-wajah mereka tampak riang. Kami pun kemudian diberi waktu untuk memperkenalkan diri di depan mereka. Alhamdulillah, energi penyambutan mereka luar biasa.

Ketika kami memulai bermain, kami tak bertanya dan menyinggung-nyinggung tentang peristiwa bencana pada 28 September kepada mereka. Demikianlah, kami kemudian milai mempraktikkan ilmu yang kami pelajari. Pertama, sebagai pembukaan, kami minta mereka untuk saling berpegangan tangan, membentuk lingkaran, dan mulai bernyanyi: Tumbai… tumbai… tumbai… tumbai…. lalalala... liililla....” Lingkaran di sesi pembukaan ini kami arahkan untuk menjadi simbol keberadaan dan kebersamaan mereka.

Aktivitas bermain kami lanjutkan dengan aktivitas untuk memusatkan perhatian anak. Kami membagi adik-adik siwa ini menjadi empat kelompok.

  1. Kelompok Bercerita, yang terdiri dari adik-adik kelas 1 dan kelas 2. Kelompk Bercerita ini akan dipandu oleh Kak Dora dan Kak Ade.
  2. Kelompok Menggambar dan Mewarnai. Mereka yang mengisi kelompok ini adalah siswa kelas 3. Kelompok ini akan dipandu oleh Kak Gusti, Kak Tuti, dan Kak Djubed.
  3. Kelompok Gerak. Kelompok ini terdiri dari siswa kelas 4 dan kelas 5, dan dipandu oleh Kak Karsa dan Kak Ayied.
  4. Kelompok Kerajinan Tangan. Adik-adik siswa kelas 6 yang ada di kelompok ini dan dipandu oleh Kak Ricky, Kak Nunul, dan saya.
Kelompok Kerajinan Tangan bersama adik-adik kelas 6 SDN 4 Potoya, akan berkreasi membuat Jaring Laba-Laba.
Kak Ricky sedang memberi contoh kepada adik-adik bagaimana cara membuat kerajinan Jaring Laba-Laba.

Kurang lebih 15 menit kami akan melakukan aktivitas ini. Di Kelompok Kerajinan Tangan, kami memandu adik-adik siswa kelas 6 membuat ‘Jaring Laba-Laba’. Bahan dan alat yang digunakan adalah stik es krim dan benang woll. Kami membagikan alat-alat sederhana itu kepada mereka. Kak Ricky kemudian mencontohkan terlebih dulu bagaimana cara membuat jaring laba-laba tersebut. Pada adik siswa kelas 6 itu dengan sangat antusias kemudian belajar menirunya. Mereka pun lantas larut dalam semangat meneruskan kreasinya masing-masing. Kerajinan tangan ini melatih ketelitian dan kesabaran

Adik-adik yang asyik berkreasi membuat Jaring Laba-Laba. Hingga waktu usai, mereka masih ingin terus melanjutkan.

Ada yang langsung mendapat pola jaring laba-labanya, ada pula yang lalu kebingungan di tengah jalan. Kami mencontohkan lagi ke mereka yang masih bingung, sampai akhirnya mereka bisa dan kembali melanjutkan kreasi jaring laba-labanya itu.

Kami terus berkreasi sambil ngobrol dan bercanda. Waktu lewat tak terasa. Mereka pun tampak terus asyik membuat jaring laba-laba. Satu anak berhasil menyelesaikan jaring laba-labanya lebih dulu. Ia menunjukkannya kepada kami. Teman-temannya pun kagum. “Wuiih. Keren dia punya, le,” puji mereka. Hasil kreasi itu kemudian menjadi penyemangat bagi yang lain.

Kegiatan ini menciptakan momen yang menyenangkan, karena mereka bisa belajar hal baru. Hingga waktu usai, mereka masih ingin terus melanjutkan. “Kak, tunggu dulu. Masih asyik,” ucap mereka sambil terus memutar-mutar benang dan stik es krim.

Waktu menunjukkan hampir pukul 10. Sesuai jadwal, kegiatan harus selesai.

Hasil Kelompok Kerajinan Tangan: kreasi Jaring Laba-Laba.

Semua kelompok kecil kami arahkan kembali ke lapangan untuk membentuk lingkaran. Dan adik-adik masih dengan semangat gembiranya, kegiatan diakhiri dengan beberapa gerakan yang sama dengan pembukaan dalam lingkaran.

Kami sendiri sangat lega menyelesaikan rangkaian tahapan aktivitas hari itu. Kecemasan tentang apakah kegiatan akan lancar, apakah mereka masih ketakutan, apakah kami mampu tampil baik untuk adik-adik di sana, dan apakah semua latihan yang telah kami lakukan sudah cukup membentuk kami untuk menjadi teman bermain dan belajar yang menyenangkan bagi mereka, sekurang-kurangnya terjawab sudah. Hal yang pasti, kegiatan lancar dan kami tidak grogi. Tentu, kami pun menyadari masih perlu perbaikan dan pembenahan di sana sini.

Kami pun langsung melakukan evaluasi bersama dengan Tim Desa Soulove. Kami saling bertukar cerita tentang pengalaman masing-masing saat berkegiatan dengan pada adik siswa, saling memberi saran, dan saling mengakui kekurangan.

Semoga, pada kegiatan-kegiatan berikutnya, kami akan jauh lebih baik.

Terus Semangat!***

Lihat Lainnya

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

avatar
  Berlangganan  
Notify of
Close