BeritaBerita dan CeritaData & InformasiKarawana

Perekonomian Warga Karawana

Mulai Berjualan Sejak Dua Bulan Pascagempa

“Lima ribu, Mas.”

Jawab Ibu Rostin sembari membawa 4 piring beserta sendok pada kami di Minggu pagi (20/1) itu, saat kami menanyakan harga sebungkus nasi kuning. Kami akan makan nasi kuning.

Setelah mengantarkan bantuan logistik di Desa Soulowe Pagi itu, Relawan Pasigala Tangguh memang berencana sarapan nasi kuning. Dan di perjalanan pulang, seolah sebuah keberuntungan kami melihat nasi kuning nampak dari dalam lemari kaca dibungkus daun pisang, ditata rapih.

Sekitar dua bulan pascagempa, Ibu Rostin mulai jualan lagi nasi kuning di warung kecil depan rumahnya. Rumahnya, di Dusun 4 pinggir jalan beraspal yang lumayan ramai dilalui lalulitantas warga. Katanya, Ia sudah berjualan nasi kuning sejak sebelum bencana 28 September lalu.

Selepas subuh, Ia sudah bersiap jualan, untuk masa jualan Pagi sampai jam sarapan selesai. Sedang malam, Ibu Rostin juga berjualan, dari sore hingga malam larut, atau paling tidak saat bukusan-bungkusan nasi kuning dengan daun pisang itu telah habis.

“Dengan anak-anak, ada anak-anak di rumah.” Ungkapnya saat kami bertanya dengan siapa dan siapa yang membantunya berjualan.

Seperti Desa lain di Kabupaten Sigi, Karawana juga mengalami kerusakan lahan persawahan. Itu artinya, Ibu Rostin juga akan merasakan dampak dari hal itu, terlebih usahanya. Karena harga beras jadi lebih mahal dibanding sebelum gempa. apalagi stok gabah dan beras di Gilingan Desa Karawana sudah sangat menipis.

Untuk saat ini, per satu karung beras, 50 Kg, Ibu Rostin membelinya dengan harga Rp.425.000,- pada saat sebelum gempa tidak sampai seharga itu. Dalam sekali masak, Ibu Rostin menghabiskan 5 liter beras.

Namun, setidaknya apa yang dilakukan ibu Rostin mengindikasikan bahwa sektor perekonomian Desa Karawana sudah mulai berjalan, sekalipun masih jauh dari kata seperti semula.

Di lain hal, yang masih bisa dikategorikan sebagai aktivitas perekonomian di Karawana telah jalan adalah seorang Ibu yang nampak memanen buah pepaya. Memang tanaman buah pepaya sedikit lebih tahan dibandingkan padi yang hanya dengan mengandalkan air hujan yang sesekali turun ia sudah mencukupi, di tengah masalah irigasi dan kontur tanah sawah berubah yang menjadikan warga Karawana kesulitan menanam tanaman palawija sekalipun.

Kemudian beberapa warga yang berprofesi sebagai pembuat kopra juga telah menjalankan pekerjaannya, dan yang hampir sama dengan ibu Rostin, penjual kelontong dan sejenisnya juga sudah menampakkan geliatnya. Sekalipun perlahan.

Dan, yang hampir terlewat, nasi kuning Ibu Rostin enak.

Lihat Lainnya

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

avatar
  Berlangganan  
Notify of
Close