Literasi Bencana

Literasi Bencana (15)

Kita bisa melakukan ini di wilayah terdampak bencana 28 September: Palu, Sigi, dan Donggala, Pasigala, juga di Parigi, atau daerah tetangga lainnya di Sulawesi Tengah. Juga (harusnya) mungkin, Indonesia: bertemu warga dan mengajak mereka membicarakan hubungan tempat mereka tinggal atau bekerja dengan beragam jenis bencana.

Saya baru balik seminggu yang lalu dari Tentena, Poso, dan merasakan gairah yang sama, betapa warga ingin membicarakannya, ingin mengetahui cara alam bekerja dan apa yang harus dilakukan ketika kerja alam mencari keseimbangannya itu didefinisikan manusia sebagai bencana.

Tapi jangan bayangkan pertemuan dengan warga yang saya maksud di atas dirancang serupa apel akbar atau kampanye politik di ruang terbuka yang seluas lapangan bola. Di bagian ini saya ingin mengutip judul buku klasik tentang ekonomi yang ditulis Ernst Friedrich Schumacher, Small is Beautiful (1973). Urusan kesepakatan yang berkualitas hanya dimungkinkan lahir dari keintiman.

Modal awal untuk melakukannya adalah punya sedikit pengetahuan tentang bencana dan meluangkan sedikit saja waktu untuk memulai pembicaraan. Saya menyarankan kita membaca undang-undang penanggulangan bencana. Nomor 24 tahun 2007. Googling saja lalu baca. Undang-undang yang belum sempurna setelah 11 tahun lalu dibuat itu minimal bisa menambah pengetahuan dasar kita tentang kebencanaan dan istilah-istilah yang menyertainya.

Pengetahuan tentang bencana yang sedikit ini maksud saya, minimal tahu, tujuan mengajak bertemu dan bicara adalah mengajak warga untuk mengenali ruang tempat mereka tinggal atau bekerja, sejarahnya, ancamannya, kerentanan yang ada di sana dari aspek lingkungan (tinggal di dekat pantai, sungai, bukit, hutan, bekas rawa, di kepadatan, dst), juga sosial (balita, anak-anak, perempuan, lansia, disabilitas, dst), dan akhirnya membuat kesepakatan sederhana tentang titik kumpul dan jalur evakuasi jika bencana terjadi.

Kau akan mendebat saya tentang dua hal itu, titik kumpul dan jalur evakuasi dari kasus likuefaksi yang terjadi massif di beberapa lokasi di Palu dan Sigi. Belum ada catatan peristiwa yang dampak kerugiannya serupa dengan empat kawasan itu: Petobo, Balaroa, Jono Oge, dan Sibalaya.

Tindakan untuk mengurangi risiko bencana atau mitigasi untuk ancaman likuefaksi sejauh ini masih normatif dan abstrak. Baru di tahap berusaha mengenali anomali gerakan tanah saat gempa bumi, perubahan wujud ruang, dan tempat memijak. Jika tanah goyang, sesegera mungkin berada di permukaan yang lebih tinggi. Memanjat pohon, naik ke atap, mencari pijakan ke atas entah apa yang bisa menopang tubuh. Hal yang sama untuk menghadapi tsunami. Berlari menjauhi pantai.

Yang kongkrit menurut saya hanyalah ilmu pengetahuan yang membekali agar minimal tidak panik saat bencana terjadi. Selebihnya adalah menuntut negara alias pemerintah untuk melayani hak warganya untuk hidup aman dengan membuat aturan tentang penataan ruang dan wilayah yang mempertimbangkan segala aspek dalam kebencanaan.

Masih abstrak ya? Buat saya, ya!

Olehnya saya memilih satu area kecil di pesisir di Kelurahan Tipo, Kecamatan Ulujadi, Kota Palu. Hanya 10-15 rumah yang berdekatan dengan warung makan Kaledo Tumbelaka, yang kepala keluarganya, atau istrinya, atau hanya anaknya, atau bahkan sekeluarga, datang dengan penuh antusias (8/12).

Di beberapa kawasan pemukiman di Pasigala yang bahasa ibunya homogen Kaili dengan banyak sub bahasa itu, tetangga bisa jadi atau kemungkinan besar adalah sanak saudara. Seperti yang saya temui di Tipo.

Kami membicarakan saat peristiwa dan setelahnya. Saya mendengarkan banyak jawaban dari sedikit saja pertanyaan, lari ke arah mana dan setelahnya berkumpul di mana.

Di area itu kami membicarakan jalan atau jalur vertikal yang mereka akses setelah gempa bumi jeda dan tsunami datang menerjang.

Pak Halim yang nelayan di pertemuan, menegaskan arti Bombatalu, kata dalam bahasa Kaili untuk tsunami itu. Tiga (Talu atau Tatalu) gelombang (Bomba) pasang yang datang silih berganti.

Angin pantai menerpa. Pisang goreng dan kopi terhidang. Laut diteduhkan pagi yang cerah. Saya merasa tak enak hati. Di saat yang bersamaan saya menyadari, kebutuhan berkumpul yang intim begitu harus lahir dari siapapun. Urusan camilan di tengah obrolan santai dan akrab akan melahirkan inisiasi untuk saling berbagi.

Saya lalu menanyakan kemungkinan ada bahasa Kaili untuk titik kumpul dan jalur evakuasi. Pertanyaan itu langsung disahuti beberapa orang. Dala Pangova untuk Jalur Evakuasi dan Kasiromu untuk Titik Kumpul. Saya mengeceknya di buku kamus Kaili Ledo yang disusun Donna Evans (2003). Hanya butuh menambahkan awalan Ni untuk kata Kasiromu yang sifat menjadi Nikasiromu dan lema itu berubah makna menjadi kata kerja (verba).

Empat jalur evakuasi (Dala Pangova) di area itu jarak horisontalnya mengikuti ruas jalan utama hanya sekira 100 meter dan satu tempat di ketinggian untuk titik kumpul (Nikasiromu) menghindari tsunami, sudah disepakati. Beberapa temuan penelitian atas dampak tsunami di sekitar Pantai Talise dan tambak garam di sumur Buvu Rasede adalah karena terbatasnya akses vertikal untuk jalur evakuasi.

Plang rambu di Tipo akan segera dibuat dan dipasang di tempat yang sudah disepakati bersama.

Kita bisa melakukan ini di tempat yang lain.

Marlah!

Lihat Lainnya

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

avatar
  Berlangganan  
Notify of
Close