Literasi Bencana

Literasi Bencana (16)

Peristiwa tsunami di Selat Sunda (22/12) memberi kita kepastian, sistem peringatan dini yang dibangun negara dibuat agar sistem tersebut bekerja, meski tidak menyelamatkan. Olehnya, biarkan saja negara mengembangkan entah sampai kapan teknologi yang menyertai kerja pada sistem itu, karena yang harus sama-sama kita lakukan adalah membangun sistem peringatan dini di diri kita masing-masing dan komunitas tempat kita tinggal.

Mati sedikit lebih cepat dari diskusi. Naif memang jika harus menunggu informasi apakah gempa bumi 28 September itu berpotensi tsunami. Tidak semua orang punya aplikasi Info BMKG di gawainya. Jangan harap juga pemerintah daerah memberi peringatan. Tidak lama setelah gempa, listrik padam, termasuk ruang pemantauan di kantor Badan Metereologi Klimatologi Geofisika (BMKG) Regional Palu dan ruang Pusat Pengendali Operasi (Pusdalop) kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu, termasuk BPBD Provinsi Sulawesi Tengah. Tombol alarm tsunami berada di Pusdalop BPBD Kota Palu. Namun jika pun alarm tsunami itu bisa dibunyikan, sudah bisa dipastikan kasip dan tidak menyelamatkan. Alarm itu salah letak karena jauh dari pantai.

30 November 2018, pukul 23.24 WITA, akun facebook BMKG Regional Palu melepas informasi, memohon maaf karena 3 sensor tidak merekam gempa yang terasa saat itu. Saya merasakannya dan bertanya di kolom tanggapan apa soalnya. Saya baru tahu jawabannya di tanggal 12 Desember saat BMKG Pusat dan Regional Palu anjangsana ke kantor AJI Palu untuk sosialiasi Warning Receiver System (WRS), teknologi pendukung Indonesia Tsunami Early Warning System (Inatews). Ada 4 seismometer BMKG di sepanjang Pasigala untuk merekam gerakan Sesar Palu Koro yang aktif itu: Labean (Pantai Barat Donggala), Pombeve, Sedaunta, dan Baluase (tiga yang terakhir di Kabupaten Sigi). 3 sensor yang dimaksud dalam 4 seismometer di atas, malam tanggal 30 November itu dalam keadaan rusak.

Rilis informasi paling cepat diterima khalayak 5 menit setelah gempa bumi. Paling cepat itu bermakna bisa lebih dari 5 menit. Potensi tsunami harus dapat asupan informasi dari pengukur pasang surut laut (tide gauge). Di kasus Selat Sunda bahkan lebih kompleks lagi, ada analisis Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi karena aktivitas anak gunung Krakatau.

Buoy, satu dari teknologi di laut sebagai pendeteksi tsunami, pasca peristiwa Selat Sunda, diberitakan banyak yang dicuri dan jika pun masih terpasang tetapi tidak berfungsi.

Sistem peringatan dini melibatkan banyak lembaga alias badan. BMKG, Badan Geologi (badan ini berada di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Badan Informasi Geospasial (BIG – dulu bernama Bakosurtanal alias Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional). Ini belum ditambah lagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), lembaga negara non kementerian yang khusus mengurusi kebencanaan. Badan-badan ini dalam sistem peringatan dini menyebut diri mereka upstream. BPBD dan perangkat di daerah disebut downstream.

Terlalu banyak badan negara, terlalu banyak korban berjatuhan.

Yang menyebalkan adalah kicau admin twitter @infoBMKG pada 22 Desember pukul 22.37 WIB. Bukan tsunami, katanya, melainkan gelombang air laut pasang karena fenomena bulan purnama. Kicau itu ditutup dengan ajakan, “tetap tenang” dengan emotikonĀ šŸ˜Ž

Di jam saat kicau itu lepas, orang-orang sudah jadi korban akibat tsunami menerjang.

Saya tidak sedang membangun keraguan publik atas badan-badan negara di atas. Saya sedang membangun kepercayaan diri kepada siapapun yang membaca tulisan saya ini, termasuk sebenarnya terhadap diri saya sendiri, sistem peringatan dini terbaik ada pada diri kita masing-masing. Tuhan membekali kita indera untuk mengenali situasi dan kondisi, memahami gejala waktu dan perihal meruang: di dekat pantai, di lereng bukit, di dalam hutan, di sempadan sungai, danau, di jalan, di dalam ruangan manapun, termasuk di rumah kita sendiri, dan tetangga di lingkungan sekitar.

Di dunia literasi, para pegiat seringkali mengajukan surat Al Alaq, perintah Tuhan untuk Iqra. Bacalah. Perintah spiritual itu dimaknai sebagai kemampuan membaca teks (buku) dan konteks (alam semesta). Maka merugilah kalian yang malas membaca.

Sembari menunggu negara memperbaiki sistemnya agar tidak jadi sistem peringatan kasip, bacalah.

Lihat Lainnya

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

avatar
  Berlangganan  
Notify of
Close