Literasi Bencana

Literasi Bencana (18)

That’s how the tsunami attacks. It’s not water. ~ Richard Lloyd Parry

Saya sudah mengatakannya di beberapa forum diskusi resmi. Mengakui kesalahan. Dalam banyak kesempatan bertemu warga, jauh sebelum peristiwa 28 September 2018 itu, saya berbagi pengetahuan sesat tentang tsunami.

Oleh peristiwa tsunami Aceh, 26 Desember 2004, saya meyakini tsunami hanya bisa terjadi jika diawali oleh gempabumi yang berpusat di laut. Air laut surut jauh dari pantai, dan setelahnya, dalam jeda yang cukup untuk evakuasi, ombak monster itu akan datang menyapu daratan. Peristiwa yang sama dari cerita-cerita lisan di peristiwa Tsunami Mapaga, Pantai Barat Donggala, 14 Agustus 1968. Air laut surut.

Literasi tentang tsunami yang saya dapati dari sumber-sumber resmi mengatakan demikian. Air laut surut. Di Teluk Palu dan Selat Sunda, tsunami tak menunggu jeda.

Tulisan ini ingin menebus kesalahan. Kepada Irina Rafliana dari LIPI yang berbagi bahan tentang tsunami yang saya bagikan lagi ini, saya mengucapkan terima kasih sekaligus izin membagikannya lagi ke pembaca yang lebih banyak.

Mari mengenal tiga model tsunami dari animasi yang saya lampirkan berikut ini. Ketiganya dibedakan oleh penyebab atau pemicu gelombang air laut maha dahsyat itu. Ketiganya pernah terjadi, bahkan sering, di bangsa supermarket bencana ini. Ada tsunami subduksi atau tempat terbenturnya zona bumi seperti yang terjadi di Aceh pada minggu pagi 26 Desember 2004, tsunami karena longsor (landslide) tebing laut seperti yang terjadi di Teluk Palu pada petang 28 September 2018, dan tsunami vulkanik, sabtu malam 22 Desember 2018 di Selat Sunda yang dipicu oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Dikirim oleh Parveen Mohamad pada Selasa, 15 Januari 2019

Dikirim oleh Parveen Mohamad pada Selasa, 15 Januari 2019

Dikirim oleh Parveen Mohamad pada Selasa, 15 Januari 2019

Lihat Lainnya

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

avatar
  Berlangganan  
Notify of
Close