Literasi Bencana

Literasi Bencana (19)

Ada sub bab dalam buku biografi John Ario Katili, Harta Bumi Indonesia (diterbitkan Grasindo tahun 2007) berjudul Una-Una, Surga di Tepi Bencana.

Una-una, pulau kecil di tengah Teluk Tomini, tak jauh dari Kepulauan Togean yang indah itu, adalah masa kecil John, bapak Geologi Indonesia itu. Saat masih sekolah dasar di Poso (sebelum mekar jadi kabupaten, Una-una, juga Ampana adalah wilayah Kabupaten Poso) John sudah menginjakkan kakinya di sana, di Una-una, pulau tempat Gunung Colo berada, gunung yang meletus hebat pada 20 Juli 1983.

Dampak erupsi vulkanik yang dimuntahkannya ke udara terbang dibawa angin, jauh sampai ke Palu, bahkan menyeberang ke Kalimantan. Saya masih mengingatnya. Palu dan sekitarnya dihujani debu, serupa butiran-butiran salju.

Dua tahun lalu, 7 Agustus 2017, saya berkesempatan ke sana untuk Hagala Buku di Desa Cendana, Kololio, dan berharap bisa menuliskan sekelumit kisah Una-una. Tak hanya tentang gunung berapi, Una-una menyimpan kisah tentang mesjid tua Jami yang melegenda itu. Satu dari yang bertahan di sana sejak peristiwa 1983.

Mesjid tua Jami didirikan oleh Ibnu Hajar Labenu, Ua Kamagi, dan Pua Kali pada 1914. Orang-orang mengenalnya sebagai Haji Labennu yang mewakafkan tanahnya untuk pembangunan mesjid, termasuk pembiayaannya, hingga selesai pada 1916 saat tokoh Syarikat Islam, guru politik para founding fathers Indonesia, Haji Oemar Said Tjokroaminoto datang ke sana untuk kali pertama, shalat jumat, dan setelahnya meresmikan.

Empat tiang raja mesjid didatangkan khusus dari Kalimantan oleh kapal Belanda, Koninklijke Paketvaart-Maatschappij (KPM) yang mengangkut kopra. Kayu Ulin yang masih kokoh menopang tubuh mesjid yang dari luar tampak semakin ringkih.

Senja sudah jatuh di barat. Kapal motor yang saya tumpangi mengurangi kecepatan. Di kejauhan, Una-una semakin menampakkan dirinya.

Tak jauh sebenarnya jarak Una-una ke Wakai yang ramai di Kepulauan Togean. Wakai menjadi tempat transit utama jalur laut dari Ampana ke titik-titik wisata lainnya di Kepulauan Togean. Menara transmisi provider seluler ada di sana.

Di pelabuhan Una-una di Binanguna, provider seluler untuk berkomunikasi hanya Indosat. Itu pun di titik tertentu yang sudah ditentukan. Pindah sedikit saja gawai, komunikasi putus. Saya lalu membayangkan komunikasi di saat bencana terjadi. Sedang dalam keadaan normal begitu saja sulit, bagaimana jika di situasi bencana yang selalu abnormal.

Setibanya di sana, saya bertemu warga dan berbincang dengan mereka perihal sejarah Gunung Colo. Ada semacam keyakinan pada warga yang hidup dekat dengan ancaman bencana alam macam gunung berapi seperti di sana, alam selalu memberi tanda.

Sebelum meletus hebat pada 20 Juli 1983 itu, beberapa hari sebelumnya, Colo sudah bergetar, gempa, tremor. Bau belerang menyelimuti kampung. Yang paling teringat oleh warga adalah saat khatib masih di mimbar jelang bubar shalat Idul Fitri, 12 Juli 1983.

Sebulan sebelum peristiwa meletusnya Gunung Colo, 11 Juni 1983, pagi-pagi, fenomena alam lain terjadi di Indonesia, Gerhana Matahari Total.

Saat Gunung Colo meletus, warga dievakuasi ke Wakai dan Ampana. Sebagian yang saat ini tinggal di Padang Uloyo atau Desa Tampa Batu di Kecamatan Ampana Tete di darat adalah warga yang sebelumnya tinggal di pulau Una-una. Nama desa mereka di tempat asal di pulau dibawa ke darat. Tampa Batu.

Keesokannya, saya akhirnya menginjakkan kaki di Gunung Colo. Butuh waktu dua jam jalan kaki dari hilir sungai hingga sampai ke kaldera. Sungainya unik. Ada bagian dari air sungai yang dingin dan ada bagian yang panas. Pengalaman geologis yang menakjubkan. Berpotensi sebagai wisata minat khusus.

Lalu saya membayangkan gunung berapi yang kerucut. Tidak ada puncak. Di kaldera Gunung Colo, batu-batu panas berlumut menyebar di mana-mana. Hawa panas menyergap. Asap belerang. Gelembung-gelembung panas menyembul dari permukaan-permukaan tanah yang labil. Beberapa tanaman tetap tumbuh subur. Bunga-bunga bermekaran.

Saya membayangkan, gunung yang pernah meluluhlantakkan dua pertiga bagian dari pulau itu adalah ancaman sekaligus pengetahuan, dan tentu saja kekayaan alam. Di keliling pulau, di pesisir dan bagian dalam, kelapa tumbuh subur. Kopra adalah komoditi utama yang menggerakkan ekonomi warga.

Tidak hanya lahar dan awan panas, saya membayangkan ancaman tsunami seperti yang terjadi di Selat Sunda karena aktivitas Gunung Anak Krakatau. Di saat yang bersamaan, saya percaya mitigasi harus intensif dilakukan kepada warga di sana, di Una-una.

Jika ada satu hal yang belum terlaksana selama dua hari saya di sana adalah menyantap Maming, sejenis Napoleon yang hidup di perairan hangat dekat dari pulau Una-una. Ikan hitam berminyak yang dibakar tanpa harus diolesi minyak. Saya akan balik lagi ke sana untuk satu hal itu. Semoga.

Lihat Lainnya

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

avatar
  Berlangganan  
Notify of
Close