Literasi Bencana

Literasi Bencana (20)

Di buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia Tahun 2017 disebutkan empat segmen utama di Sesar Palu Koro yakni Segmen Palu, Segmen Saluki, Segmen Moa, dan Segmen Meloi. Buku yang diterbitkan oleh Pusat Studi Gempa Nasional, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat itu harus diperbaharui. Pasca peristiwa 28 September 2018, segmen baru ditemukan di laut. Segmen Selat Makassar.

Dua dari empat nama dalam pembagian segmen utama itu, Palu dan Saluki, sebagian besar telah sering diketahui. Yang satu nama ibukota Provinsi Sulawesi Tengah, yang satunya lagi nama desa di jalur utama poros Palu – Kulawi, Kabupaten Sigi.

Pernahkan kalian mendengar dua nama segmennya yang lain, Moa dan Meloi?

Perbaikan atas isi buku itu terkait penulisan nama segmen. Orang di selatan Sigi tidak mengenal Meloi. Yang mereka kenal adalah Malei. Mereka menyebutnya Uwe Malei atau Sungai Malei. Penamaan segmen seringkali diambil dari nama sungai. Contoh kesalahan penulisan lainnya adalah Sesar Palintuma yang harusnya Valentuma, sesar di perbatasan antara Donggala dan Mamuju Utara. Meloi dalam buku itu merujuk lokasi yang sudah masuk di wilayah administrasi Kabupaten Poso, karena Malei lebih dekat dari Bada, wilayah tetangga Moa, desa terakhir di Kecamatan Kulawi Selatan, Kabupaten Sigi yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Poso.

Koro adalah sungai yang sama saat menyebut Sungai Lariang dan sungai yang ditulis A. C. Kruyt dalam banyak catatan perjalanan etnografinya sebagai Sungai Tawaelia, sungai besar yang mengalir dari hulunya di Poso selatan melewati Sigi, Luwu, Mamuju, dan berhilir hingga ke Selat Makassar. Sungai itu melewati empat kabupaten dan tiga provinsi.

****

Beruntunglah saya, pernah berkesempatan ke Moa (30/09/2016) bersama fotografer andalan Mirwan Hamdy. Moa adalah satu dari beberapa tempat yang saya dkk di NEMU BUKU pilih dan tuju untuk kegiatan Hagala Buku, membuka rumah baca di desa atau dusun terpencil di Sulawesi Tengah yang jauh dari akses apapun, terlebih akses atas bacaan-bacaan bergizi dari buku-buku bermutu. Agar warga desa, khususnya anak usia dini bisa lebih dekat dengan buku. Dan beruntung pula saat hendak memilih tempat-tempat itu, kami bertemu dengan orang-orang dengan kegelisahan yang sama atas tempat mereka tinggal. Di Moa, gerakan literasi dihidupkan dan dijaga dua kawan baik saya di sana, bidan desa Melvin Sawedu dan Heri Uto Djempa.

Moa adalah desa permai di pedalaman Sigi. Mobil belum bisa sampai ke desa batas kabupaten itu. Batas aspal terakhir hanya sampai di Lempelero, sekira 150 km dari Palu. Butuh waktu tempuh sekira 4 jam dari Palu untuk sampai di Lempelero dan melewati Lawua dan Gimpu, ibukota Kecamatan Kulawi Selatan. Dari Lempelero, jarak Moa tinggal 25 km tetapi lama tempuh ke sana bisa lebih dari 4 jam!

Google maps malah menyarankan jalur lain yang lebih jauh. 345 km. Dari Palu ke Poso, Tentena, Bada, lalu Moa.
Sejak Lempelero, jalan ke Moa hanya setapak buat satu ban sepeda motor. Di beberapa bagian, kau akan bertemu tebing-tebing curam dengan tanah pasir yang labil dan di salah satu sisinya tampak arus deras Sungai Lariang. Di beberapa bagian yang lain, jalan-jalan setapak menuju Moa akan menemui tanah berlumpur.

Transportasi publik satu-satunya adalah ojek sepeda motor. Ojek untuk mengangkut tidak saja orang tetapi juga barang. Harga jasa ojek dari ibukota kecamatan ke Moa bisa setara harga tiket pesawat Palu – Ampana. Dan satu lagi, jangan berharap sinyal seluler di sana.

Saya lalu membayangkan orang sakit yang harus dirujuk. Orang-orang sakit di Moa ditandu secara gotong-royong, lelaki dewasa di desa dengan dua dusun itu bergantian memikul tandu si sakit sampai ke puskesmas di Lawua, dekat dari ibukota Kecamatan Kulawi Selatan.

Lansekap indah menyebar dari seluruh penjuru mata angin sejak akan memasuki Moa. Hutan perawan. Beragam palma dan rotan, dua tumbuhan yang menjadi komoditi utama yang menggerakkan ekonomi warga desa, selain kakao dan ladang berpindah. Tanaman kopi banyak yang sudah ditinggalkan.

Saya juga membayangkan Lobo Kahintuwua yang ada di tengah-tengah desa. Saat peristiwa gempabumi 28 September lalu, Moa ikut berguncang. Bangunan dengan arsitektur tradisional itu oleh kesaksian kawan di sana berayun saja mengikuti arah gerak gempa.

Ada 400 lebih jiwa dari 117 kepala keluarga di Moa yang punya dua dusun itu. Saya ikut membayangkan mereka yang tinggal di Moa, satu dari nama segmen utama patahan paling aktif di Indonesia, bahkan mungkin dunia: Sesar Palu Koro.

Lihat Lainnya

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

avatar
  Berlangganan  
Notify of
Close