Berita dan CeritaCatatanLogistik & Dapur UmumProgram

Kabar dari Para Penyintas

Hampir seminggu sudah bencana terjadi, belum ada kabar penyintas pelanggaran HAM 65/66 yang aku dampingi melalui Skp-ham Sulteng selama 13 tahun. Semua nomor telfon yang kuhubungi tidak ada yang tersambung. Dua kali berupaya jalan ke Sigi, namun tak tembus karena jalan putus.

Pagi kemarin, 5 Oktober 2018, akhirnya mendapat kabar dari ibu Asmiri, perempuan penyintas yang sangat aktif mengorganisir di komunitasnya. Di ujung telfon tangisnya meledak, “Ellaaaa, tidak ada lagi apa-apanya kami di sini, saya mengungsi ke panti asuhan, tolong kami kasian”

Bahagia mendengar kabar ibu Asmiri selamat. Saya lalu mengajak empat relawan muda langsung menuju Desa Maku, mengantar nasi bungkus dan sembako ala kadarnya. Alhamdulillah, kini Bu Asmiri bersama 50-an penghuni panti mulai tenang.

Dari Maku kami bergerak ke desa Tulo dan Soulowe, menjumpai penyintas lainnya di sana. Di dua desa ini, semua warga mengungsi di halaman rumah dan lapangan. Adapula yang lari naik ke gunung. Trauma warga sangat akut, tak ada yang berani beraktivitas di kebun, mereka memilih kumpul bersama keluarga. Cerita turun temurun para tetua tentang gempa dimasa silam dan berita hoax tentang gempa berkekuatan 12 SR yang akan kembali melanda Sigi, membuat warga memilih diam di tempat, atau pergi meninggalkan desa.

Dengan berbekal informasi yang kami himpun dari BMKG pada 1 Oktober 2018, kami mengajak aparat desa berbincang dan mencari cara menenangkan warga, terutama menenangkan ibu bapak penyintas yang telah lansia, memastikan mereka mendapat makanan dan tempat berlindung yang layak.

Terima kasih pada sahabat KKPK yang telah berbagi, menolong penyintas di Sigi. Masih banyak yang belum kutemukan. Mohon doa untuk keselamatan mereka.***

Tags
Lihat Lainnya

Artikel terkait

Tinggalkan Komentar

avatar
  Berlangganan  
Notify of
Close