Tentang Kami

Kami adalah kelompok kerja masyarakat sipil yang merespon penanganan bencana Palu, Sigi, dan Donggala di bidang data dan informasi. Kelompok kerja kami ini diinisiasi oleh NemuBuku (komunitas anak muda Kota Palu yang bergerak di bidang literasi), SKP-HAM Sulteng (organisasi masyarakat sipil yang bekerja di bidang hak asasi manusia), Sejenak Hening (organisasi yang bekerja di bidang psikososial), dan Komunitas Historia Sulawesi Tengah (komunitas anak muda Kota Palu yang bergerak di bidang kesejarahan dan kearsipan). Selain mengumpulkan data dan informasi, kelompok kerja ini menggalang dukungan untuk membangun gerakkan dapur umum, melakukan aktivitas psychological first aid (PFA), dan literasi kebencanaan.

Kami terbentuk mulai dari hari pertama pascabencana, dan telah bergerak melakukan semampu yang kami bisa. Awalnya, tidak lebih dari 7 orang relawan yang tergabung di kelompok kerja ini. Kini, sejumlah komunitas dan individu sudah mulai bergabung di posko ini: Rumah Hutan Drupadi dan relawan yang berasal dari Gorontalo, Luwuk, serta Napu, di antaranya. Hampir semua adalah anak-anak muda Kota Palu dan sekitarnya.

Sedianya, kami hanya berusaha untuk mencari dan mendistribusikan informasi yang dipandang bermaanfaat, khususnya untuk warga yang menjadi korban bencana. Di saat yang sama, kami sekaligus berusaha untuk terus saling menguatkan dan membangkitkan optimisme warga. Sekecil apapun itu, kabar yang ingin disiarkan adalah kekuatan, semangat, dan optimisme: bahwa #palukuat, #palubangkit, dan warga di seluruh penjuru negeri, yang memahami arti kemanusiaan, senantiasa akan ada bersama kita, #pelukpalu dari jauh, semampu yang mereka bisa.

Seiring dengan dinamika yang terjadi, terlebih saat di lapangan kami melihat ada berbagai kecarutmarutan dalam koordinasi dan terutama distribusi bantuan logistik dari pemerintah kepada warga yang menjadi korban bencana, tidak bisa tidak akhirnya kami pun berupaya mendistribusikan logistik, meskipun dalam jumlah yang relatif kecil.

Atas dukungan Jaringan Relawan Kemanusiaan Indonesia dan Institut Mosintuvu di Tentena, kami pun mulai membuka dan membangun gerakkan dapur umum. Di masa tanggap darurat, ada 12 dapur umum yang kami kelola: 11 di antaranya, berbasis di desa dan kelurahan di tiga wilayah terdampak bencana: Palu (Pantoloan Boya, Panau, dan Kayumalue Ngapa), Donggala (Labuan Panimba, Wani-1, dan Boneoge), dan Sigi (Soulowe, Karawana, Potoya, Langaleso, dan Boladangko).

Selain mendapat dukungan dari berbagai donatur, baik organisasi maupun perseorangan, saat ini kami pun mendapat dukungan dari Caritas Jerman yang telah berkomitmen untuk mendukung aktivitas kami dari pertengahan Oktober 2018 sampai dengan pertengahan Februari 2019 mendatang.

Close